![]() |
| Pelaku Seni Apresiasi Pasar Inis, Budaya Jadi Kekuatan Festival Tumpeng Telang #7 |
PURWODADI – Festival Tumpeng Telang ke-7 di Pasar Inis Brondongrejo tidak hanya menjadi perayaan usia pasar, tetapi juga ruang belajar dan kolaborasi budaya bagi para pelaku seni dari berbagai daerah.
Pelaku seni Bundengan asal Wonosobo, Mulyani, mengaku bersyukur dan berterima kasih atas undangan yang diberikan untuk terlibat dalam kegiatan di Pasar Inis.
“Saya berterima kasih mendapat undangan untuk belajar di Pasar Inis. Menurut saya Pasar Inis luar biasa, 7 tahun tetap bertahan dan itu menjadi hal yang tidak mudah,” ujarnya.
Ia menilai kekuatan Pasar Inis terletak pada kekompakan para penggeraknya. Menurutnya, soliditas tersebut membuat setiap kegiatan dapat terlaksana dengan baik.
“Saya yakin para pelaku di Pasar Inis ini sangat solid sehingga tetap terlaksana dengan baik,” lanjutnya.
Mulyani juga mengapresiasi inisiatif Pasar Inis di bawah perrakarsa Rianto Purnomo atau Lek Pur yang konsisten mengangkat unsur budaya dalam setiap kegiatan pasar.
“Saya bersyukur di Pasar Inis perrakarsa Lek Pur mengangkat budaya. Jika kegiatan pasar seperti ini dikolaborasikan dengan kegiatan budaya menjadi sesuatu yang sangat keren,” ungkapnya.
Ia berharap proses pelestarian budaya di Pasar Inis terus berlanjut, terutama dalam upaya mentransfer ilmu seni dari generasi tua kepada generasi muda.
“Budaya yang ada di Pasar Inis dengan Lek Pur selaku pelaku seni dan juga pelatih tari pengembangan di Pasar Inis harus dilanjutkan tanpa henti, menularkan serta mentransfer ilmu yang dimiliki orang-orang tua sehingga seni tetap bisa lestari,” katanya.
Sementara itu, Anon Suneko dari Gamelanon Yogyakarta menyampaikan bahwa kolaborasi dengan Pasar Inis telah terjalin hampir setiap tahun, termasuk pada Festival Tumpeng Telang ke-7.
“Terkait acara Tumpeng Telang ke-7, hampir setiap tahun saya serta komunitas saya, Rumah Gamelan di Jogja, berkolaborasi dengan Pasar Seni,” jelasnya.
Menurut Anon, Pasar Inis memiliki potensi kuat yang saling menguatkan antara kuliner, alam, dan kesenian.
“Potensi di Pasar Inis kuliner dan alam serta keseniannya terbilang cukup, sehingga menjadi jaringan yang saling menguatkan. Ada tari, musik akustik etnik, serta beberapa tahun lalu saya membawa musisi dari Sumatra dan Kalimantan untuk berkolaborasi dengan penari dan musisi lokal di Pasar Inis,” tuturnya.
Ia juga mengungkapkan kesan mendalam terhadap Kabupaten Purworejo yang menurutnya memiliki daya tarik tersendiri.
“Purworejo tetap eksotik dengan sawah dan penduduknya ramah. Saya datang disambut dan merasa seperti rumah kedua saya di Purworejo. Saya juga suka dengan kesenian rakyatnya, yaitu Ndolalak serta Cingpoling,” katanya.
Anon berharap Pasar Inis dapat terus langgeng sebagai pasar rakyat yang tumbuh secara organik.
“Harapannya Pasar Inis bisa terus langgeng, menjadi pembeda, terus berjalan organik milik rakyat serta orang-orang yang datang dengan keindahan sawah, kuliner sehat, dan suasana masyarakat,” pungkasnya. (ad)


