.jpeg)
Gotong Royong Warga Jadi Nafas Ruwahan Perdana Makam Sidompyong
BAGELEN – Lebih dari sekadar ritual doa, pelaksanaan Ruwahan Makam Sidompyong di Desa Krendetan, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo, Sabtu (7/2/2026) malam, menjadi cermin kuatnya gotong royong dan kepedulian warga terhadap warisan spiritual leluhur. Kegiatan yang dirangkai dengan Tahlil Kubro dan Pengajian Umum ini menyatukan ratusan warga, tokoh masyarakat, serta para ahli waris dalam satu ruang kebersamaan.
Sejak sore hari, warga tampak antusias memadati area makam. Tidak hanya mengikuti doa bersama, mereka juga terlibat aktif dalam menyiapkan seluruh rangkaian acara. Momentum ruwahan ini dimanfaatkan masyarakat untuk mempererat ikatan sosial antarwarga lintas pedukuhan, sekaligus mempertemukan kembali para ahli waris yang selama ini jarang berkumpul.
Kekhidmatan acara semakin terasa saat tahlil dan doa bersama dipimpin oleh Kyai Miftahudin, Kyai Amin Zuhri, Kyai Jubaidi, serta K.H. Muhson Mahfud. Doa-doa yang dipanjatkan bukan hanya ditujukan bagi para leluhur yang dimakamkan di Sidompyong, tetapi juga menjadi wasilah agar masyarakat diberikan keberkahan dan keselamatan menjelang bulan suci Ramadan.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pengajian umum oleh Gus Qosim Thoifur, Pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid Kedungsari, Purworejo. Dalam tausiyahnya, ia menekankan pentingnya menjaga hubungan antara generasi yang hidup dengan para pendahulu melalui doa, sekaligus menjadikan tradisi ruwahan sebagai sarana pendidikan spiritual dan sosial bagi generasi muda.
Menariknya, ruwahan ini bukanlah kegiatan yang berdiri sendiri. Ketua Panitia, Muh Chobir, mengungkapkan bahwa proses menuju pelaksanaan acara sudah dimulai jauh hari melalui kerja bakti membersihkan makam sejak 25 Januari 2026. Kegiatan tersebut melibatkan warga dari empat pedukuhan, menunjukkan bahwa ruwahan ini tumbuh dari kesadaran kolektif, bukan sekadar agenda seremonial.
“Ruwahan ini menjadi titik temu antara ibadah, tradisi, dan kebersamaan warga. Kami ingin ini terus berlanjut dan menjadi tradisi tahunan,” ungkapnya.
Dengan antusiasme warga yang tinggi, Ruwahan Makam Sidompyong perdana ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi lahirnya tradisi tahunan yang tidak hanya menjaga nilai religius, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial masyarakat Desa Krendetan. (nj)

