![]() |
| Dari Seremoni ke Substansi: Pembangunan Purworejo Menyongsong Usia ke-195 Tahun |
Momentum peresmian proyek yang dirangkai dengan Kenduri Agung bukan sekadar agenda rutin pemerintah daerah. Di balik simbol pemukulan gong dan penandatanganan prasasti, tersimpan pesan bahwa pembangunan fisik harus selaras dengan nilai budaya, religiusitas, serta kebersamaan yang selama ini menjadi karakter masyarakat Purworejo.
Pembangunan sebagai Instrumen Pelayanan Publik
Sebanyak 24 paket pekerjaan yang diresmikan dengan total nilai lebih dari Rp64,4 miliar mencerminkan pendekatan pembangunan lintas sektor. Infrastruktur jalan dan jembatan yang mendominasi proyek Dinas PUPR tidak hanya ditujukan untuk memperindah wajah daerah, tetapi menjawab persoalan konektivitas antarwilayah, memperlancar distribusi hasil pertanian, serta membuka akses layanan dasar bagi masyarakat perdesaan.
Pembangunan gedung kelurahan, rehabilitasi fasilitas pemerintahan, hingga peningkatan penerangan jalan umum juga menunjukkan orientasi pelayanan publik yang lebih dekat dengan warga. Fasilitas-fasilitas tersebut menjadi titik temu antara negara dan masyarakat dalam urusan administratif, keamanan, dan kenyamanan hidup sehari-hari.
Menyentuh Sektor Sosial dan Kesehatan
Tidak kalah penting, sejumlah proyek diarahkan pada penguatan layanan kesehatan dan pendidikan. Renovasi laboratorium kesehatan daerah, pembangunan sarana CT-Scan di RSUD, hingga pengadaan Modular Operating Theater (MOT) merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas pelayanan medis di Purworejo.
Di sektor pendidikan, revitalisasi sekolah dan rehabilitasi ruang kelas menjadi jawaban atas kebutuhan lingkungan belajar yang layak. Pembangunan di sektor ini memperlihatkan bahwa pemerintah daerah memandang kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi utama pembangunan daerah ke depan.
Ekonomi Lokal dan Ketahanan Pangan
Pembangunan lumbung pangan, lantai jemur, serta fasilitas umum pasar menjadi sinyal kuat bahwa ekonomi kerakyatan tetap menjadi prioritas. Infrastruktur tersebut diharapkan mampu memperkuat rantai pasok pangan, meningkatkan nilai tambah hasil pertanian, serta memberi ruang yang lebih layak bagi pelaku usaha kecil dan pedagang pasar.
Dalam konteks ini, pembangunan tidak semata berorientasi pada pertumbuhan angka, tetapi pada penguatan struktur ekonomi masyarakat agar lebih tangguh dan mandiri.
Capaian dan Tantangan Tata Kelola
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Purworejo, Suranto, mengungkapkan bahwa sepanjang Tahun Anggaran 2025 terdapat 229 kegiatan konstruksi dengan capaian fisik hampir sempurna dan serapan keuangan di atas 93 persen. Capaian tersebut mencerminkan kinerja birokrasi yang relatif solid, namun sekaligus membuka ruang refleksi untuk perbaikan.
Harapan Bupati agar pelaksanaan kegiatan di tahun berikutnya tidak menumpuk di akhir anggaran menjadi catatan penting tentang perlunya perencanaan yang lebih matang, pengawasan yang konsisten, dan disiplin waktu dalam pelaksanaan proyek.
Hari Jadi sebagai Ruang Refleksi Kolektif
Kenduri Agung yang mengiringi peresmian proyek memberi dimensi spiritual dan kultural pada peringatan Hari Jadi ke-195. Tradisi ini tidak hanya menjadi ungkapan rasa syukur, tetapi juga pengingat bahwa pembangunan Purworejo berakar pada nilai gotong royong, doa, dan kebersamaan.
Di usia yang semakin matang, Purworejo dihadapkan pada tantangan untuk memastikan setiap rupiah anggaran benar-benar memberi manfaat, setiap proyek dirawat dan dimanfaatkan optimal, serta setiap kebijakan berpihak pada kepentingan jangka panjang masyarakat.
Peresmian proyek Tahun Anggaran 2025 menjadi lebih dari sekadar laporan capaian. Ia adalah penanda arah: bahwa Purworejo tidak hanya membangun untuk hari ini, tetapi menyiapkan fondasi bagi masa depan yang lebih berdaya saing, sejahtera, religius, dan inovatif—sebagaimana visi daerah yang terus dijaga. (nj)

.jpeg)
